Selamat Datang di Confreria Reinha Rosari Larantuka

Uskup Baru, Harapan Baru: Melihat Pengangkatan Mgr. Yohanes Hans Monteiro dalam Terang Spiritualitas Larantuka



Uskup Baru, Harapan Baru: Melihat Pengangkatan
Mgr. Yohanes Hans Monteiro
dalam Terang Spiritualitas Larantuka



Dalam kehidupan Gereja, pergantian seorang Uskup selalu menjadi momen penuh makna. Bukan sekadar informasi resmi dari Vatikan, tetapi tanda bahwa Roh Kudus terus bekerja menuntun umat kepada arah baru. Ketika Sri Paus menerima pengunduran diri Mgr. Fransiskus Kopong Kung dan menetapkan RD. Yohanes Hans Monteiro,Pr., sebagai Uskup Larantuka yang baru, umat di Flores Timur—terutama kita di Konfreria Reinha Rosari—merasa seperti menyaksikan halaman baru dari kisah panjang Gereja Maria di Tanah Larantuka.

Umat Larantuka hidup dalam irama devosi yang tidak ditemukan di tempat lain. Setiap Semana Santa, kita melihat bagaimana kota berubah menjadi altar peziarahan; bagaimana Bunda Maria, yang kita sebut Ina Reinha Rosari, hadir sebagai sosok penghibur dan pembimbing. Di tengah tradisi iman yang begitu kaya ini, hadirnya sosok uskup baru tentu membangkitkan harapan bahwa devosi dan spiritualitas lokal kita akan semakin diperkuat dengan fondasi teologis yang kokoh.


Proses pemilihan uskup sendiri bukan proses sederhana. Dalam Gereja Katolik, pengangkatan seorang uskup diawali dari konsultasi panjang yang dilakukan oleh Nuncio Apostolik—utusan resmi Paus yang menilai kebutuhan pastoral keuskupan. Dari berbagai masukan para uskup, imam, dan tokoh gereja, disusunlah daftar calon gembala yang dianggap mampu menuntun umat setempat. Laporan lengkap itu lalu dikirim ke Vatikan dan dibahas oleh Dicastery for Bishops, sebelum akhirnya Paus sendiri menentukan siapa yang akan diutus menjadi gembala baru. Maka ketika nama RD. Yohanes Hans Monteiro,Pr diumumkan, Gereja sebenarnya mengatakan: “Ini putra terbaik yang dipilih Roh Kudus untuk Larantuka.”

Sumber Dok.Kompas Id

Figur Uskup terpilih ini memang sangat dekat dengan identitas Gereja Larantuka. Lahir di kota ini pada 15 April 1971, ia tumbuh dalam tradisi devosional yang sama dengan kita: mencium tangan Maria, menunduk di depan Pieta, dan membawa doa-doa harapan pada setiap Prosesi Semana Santa. Pendidikan imamatnya dimulai di Seminari San Domingo Hokeng, lalu berlanjut ke Ledalero. Setelah ditahbiskan pada tahun 1999, ia mengabdi sebagai pengajar dan kemudian melanjutkan studi liturgi hingga meraih gelar doktor di Universitas Wina. Selama lebih dari satu dekade tinggal di Eropa, ia bukan saja memperdalam pengetahuan akademis, tetapi juga belajar menjadi gembala bagi umat multikultural sebagai vikaris paroki di Austria.

Sekembalinya ke tanah air, ia menjadi dosen liturgi dan formator calon imam—dua tugas yang seolah menegaskan bahwa Gereja sedang mempersiapkan dirinya untuk sesuatu yang lebih besar. Kemampuannya membaca liturgi sebagai pusat kehidupan Gereja, pemahamannya tentang inkulturasi, serta kepekaannya terhadap dinamika pastoral membuat dirinya menjadi figur yang dipercaya untuk duduk dalam Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia. Dengan latar belakang seperti itu, umat Larantuka menerima seorang gembala yang bukan hanya mengerti teologi, tetapi juga mengerti hati Gereja.

Sumber Dok.Pikiran Rakyat

Bagi kita di Konfreria Reinha Rosari, pengangkatan ini membawa resonansi yang mendalam. Devosi kita kepada Bunda Maria selalu hidup melalui tata liturgi, prosesi, dan simbol-simbol sakral yang diwariskan turun-temurun. Uskup yang memahami liturgi secara mendalam dapat membantu kita menjaga keaslian devosi tersebut tanpa kehilangan kekuatan rohaninya. Tradisi bukan hanya sesuatu yang dijalankan, tetapi sesuatu yang dimaknai. Dan dalam diri uskup baru ini, kita menemukan seseorang yang mampu menuntun tradisi religius Larantuka dengan pencerahan teologis yang jernih.

Lebih dari itu, seorang uskup adalah gembala yang berjalan bersama umat. Meski dikenal sebagai akademisi, Uskup Mgr Yohanes Hans Monteiro memiliki hati pastoral yang lembut—buah dari perjumpaan panjangnya dengan umat dari berbagai budaya. Kemampuannya mendengar, merenung, dan membimbing akan menjadi kekuatan besar bagi umat Larantuka yang hidup dalam pergulatan zaman modern namun tetap ingin menjaga kesetiaan pada tradisi iman.

Pengangkatan ini pada akhirnya mengingatkan kita bahwa sejarah Gereja selalu ditulis oleh Roh Kudus melalui tangan-tangan manusia. Kita percaya bahwa Bunda Maria, Ina Reinha Rosari, turut hadir dalam setiap proses pemilihan dan pengutusan ini. Seperti Maria yang diam-diam menyimpan segala perkara di dalam hati, demikian pula kita diajak menyambut uskup baru dengan doa, dukungan, dan keterbukaan.

Dengan gembala baru yang mencintai liturgi, menghayati tradisi, dan memahami akar budaya Larantuka, kita melangkah menuju masa depan Gereja yang lebih terang. Kita berharap bahwa di bawah kepemimpinannya, devosi kita kepada Bunda Maria semakin diperdalam, liturgi kita semakin hidup, dan iman kita semakin berbuah dalam karya.

Semoga Roh Kudus menuntun langkah Uskup Mgr.Yohanes Hans Monteiro, dan semoga Ina Reinha Rosari selalu menjadi Bunda penyerta bagi Gereja Larantuka pada babak baru yang penuh harapan ini.


Sumber Dok. Kompas Id




0 Komentar