“Ketukan di Pintu Surga: Refleksi Relasi Pribadi dengan Kristus melalui Konfreria Reinha Rosari”
Kafe kopi itu selalu menjadi tempat pelarian kami dari rutinitas: meja kayu yang mulai kusam, lampu gantung redup, dan aroma kopi sangrai yang seakan menyapu lelah dari tubuh. Di sanalah, di antara kepulan asap dan suara sendok beradu dengan gelas, saya duduk bersama teman-teman seangkatan seminari. Kami sudah terbiasa saling mengejek dengan cara paling akrab, dan sore itu tidak berbeda—sampai percakapan mengarah pada sesuatu yang membuat mereka serempak tertawa.
“Eh, dengar ko su masuk Konfreria? Ko sanggup ka? Masih muda begini! Bisa tahan ka tidak ni?” kata salah seorang teman sambil menahan tawa.
Mereka tertawa bukan karena meremehkan, melainkan karena heran. Dalam pandangan umum, keikutsertaan dalam serikat religius sering diasosiasikan dengan komitmen berat dan kesalehan tingkat tinggi—dua hal yang menurut mereka belum cocok dengan usia saya. Tetapi tawa itu memberi saya ruang untuk menjelaskan sesuatu yang lebih dalam daripada jawaban spontan.
Saya memulai dengan cerita.
“Bayangkan,” ujar saya sambil merapikan posisi duduk, “ada orang asing mengetuk pintu rumahmu dan berkata ingin masuk untuk makan dan mandi. Apakah kalian izinkan?”
Mereka kompak menjawab tidak, bahkan sebelum saya selesai bertanya. Jawaban itu sangat manusiawi. Dalam psikologi sosial, rumah merupakan representasi ruang aman, dan orang asing dianggap sebagai ancaman potensial. Sistem kognitif manusia memang dirancang untuk mendahulukan perlindungan diri dibandingkan rasa iba. Narasi pintu pertama ini sengaja saya pilih untuk menggambarkan bagaimana hubungan tanpa kedekatan akan memunculkan penolakan otomatis.
Lalu saya menambahkan situasi kedua: seseorang yang pernah dikenal sekilas, namun tidak akrab, mengetuk pintu dan meminta hal yang sama. Apakah kalian mengizinkanya masuk? Respons mereka mulai beragam—ada yang menolak tegas, ada yang ragu. Keraguan itu, bila dilihat secara ilmiah, adalah bentuk ambiguitas relasional. Secara psikologis, seseorang yang berada “di antara asing dan dekat” menciptakan ketidakpastian emosional: tidak sepenuhnya dipercaya, tetapi juga tidak sepenuhnya ditolak. Narasi pintu kedua ini menjelaskan bahwa sekadar mengenal tidak cukup untuk menciptakan kepercayaan.
Kemudian saya bertanya lagi: “Kalau saya yang datang ke rumahmu, meminta makan dan mandi, apakah kalian izinkan?” Tanpa ragu, mereka menjawab iya. Di sinilah prinsip ilmiah tentang kedekatan mulai tampak: keakraban membangun rasa aman, dan rasa aman membuka akses. Dalam teori hubungan interpersonal, kedekatan emosional adalah fondasi utama penerimaan. Ketiga ilustrasi pintu ini bukan sekadar cerita; ia membentuk struktur argumentatif tentang bagaimana manusia memperlakukan sosok yang dikenal dan yang tidak.
Setelah respons mereka terhenti, saya menyambungkan analogi itu pada sesuatu yang lebih luas daripada relasi sosial kami.
“Kalau kita percaya bahwa surga itu rumah dan Yesus pemiliknya,” kata saya perlahan, “maka satu hari kita akan datang mengetuk pintu itu. Lalu kalau Dia tidak mengenal kita… apakah Dia akan mengizinkan kita masuk?”
Pertanyaan itu bukan retorika kosong. Dalam teologi relasional Kristen, keselamatan bukan hanya soal identitas formal sebagai orang beriman, tetapi juga soal relasi personal dengan Kristus. Banyak kajian spiritual menunjukkan bahwa iman yang hidup terbangun melalui praktik relasional yang berulang: doa, pelayanan, devosi, dan keterlibatan komunitas. Dengan kata lain, relasi dengan Tuhan mengikuti pola yang sama dengan relasi manusia—kedekatan terbentuk melalui konsistensi perjumpaan.
Di sinilah fungsi organisasi religius seperti Konfreria menjadi relevan. Dalam perspektif sosiologis, organisasi keagamaan menyediakan ruang struktural bagi individu untuk membangun kedekatan rohani lewat aktivitas yang sistematis. Praktik ritual, kedisiplinan, dan keterlibatan bersama tidak hanya menumbuhkan spiritualitas, tetapi juga memberikan dukungan emosional dan arah moral. Konfreria, bagi saya, bukan sekadar wadah devosi, tetapi ekosistem relasional yang memfasilitasi pertumbuhan iman secara nyata.
Narasi pintu yang awalnya sederhana tiba-tiba menjadi cermin bagi mereka: kedekatan tidak muncul dari pengakuan, tetapi dari keterlibatan; relasi tidak lahir dari identitas, tetapi dari perjalanan.
Teman-teman saya diam sejenak. Tidak ada tawa sambil menepuk meja seperti sebelumnya. Yang ada hanya kesunyian kecil yang menandakan bahwa mereka memikirkan sesuatu. Sore itu, kafe kopi yang biasanya riuh berubah menjadi ruang refleksi mini.
Salah satu dari mereka akhirnya berkata, “Ko punya penjelasan bikin saya sadar. Kalau memang mau masuk rumah Tuhan, berarti kita harus membuatNya mengenal kita terlebih dahulu.”
Komentar itu terasa lebih dewasa dibanding tawa mereka di awal. Kopi di atas meja kami mungkin sudah mendingin, tetapi percakapan kami justru menghangatkan cara pandang mereka terhadap iman. Saya tidak sedang berkhotbah; saya hanya menuturkan logika relasi yang manusiawi—logika yang, jika diperluas, juga berlaku dalam relasi rohani.
Sesungguhnya, kehidupan rohani manusia seringkali bergerak di antara tiga pintu itu: menjadi asing bagi Tuhan, menjadi kenalan yang samar, atau menjadi sahabat yang dikenal-Nya. Dan pilihan itu ditentukan oleh bagaimana kita membangun relasi, bukan oleh status atau usia.
Sore di kafe kopi itu mengajarkan saya bahwa pembicaraan ilmiah dan spiritual tidak harus terpisah. Keduanya bisa bertemu di meja kecil dengan cangkir kopi yang hampir kosong, ketika analogi tentang pintu rumah dapat menjelaskan bagaimana manusia memahami kedekatan—baik dengan sesama maupun dengan Tuhan.
Pada akhirnya, kita semua akan berdiri di depan sebuah pintu. Pertanyaannya bukan apakah pintu itu ada, tetapi: apakah suara ketukan kita akan dikenali oleh Pemilik Rumah itu?
0 Komentar