Selamat Datang di Confreria Reinha Rosari Larantuka

Ketika Tuhan Memilih Orang Biasa: Kisah Para Murid dan Kita yang Merasa Tak Layak


Ketika Tuhan Memilih Orang Biasa: Kisah Para Murid dan Kita yang Merasa Tak Layak




Kadang dalam hati kecil kita, muncul suara lirih: “Saya ini siapa? Masa lalu saya buruk. Hidup saya tidak sebaik orang lain. Apa saya pantas melayani Tuhan?” Suara itu bisa muncul ketika berdiri di barisan liturgi Konfreria, ketika memegang lilin, ketika membawa patung, atau ketika melangkah di Semana Santa. Kita merasa kecil. Kita merasa kotor. Kita merasa tidak layak.

Namun, kalau kita menengok kembali kepada siapa saja orang yang pertama dipanggil Yesus, rasanya kita harus tersenyum—karena Yesus justru memulai karya besar-Nya bersama orang-orang yang sama seperti kita: gugup, tidak percaya diri, kasar, penuh masa lalu, dan jauh dari sempurna.

Yesus memilih nelayan Galilea—Petrus, Andreas, Yakobus, Yohanes. Mereka bukan pemimpin sinagoga, bukan ahli kitab. Mereka biasa bangun subuh, bergelut dengan jala kusut, tangan pecah-pecah karena air asin. Mereka lebih tahu soal badai dan ikan daripada doa panjang para ahli Taurat. Tetapi justru kepada merekalah Yesus berkata: “Ikutlah Aku.”

Lalu ada Matius, pemungut cukai. Orang seperti Matius, di mata masyarakat Yahudi, adalah sampah moral. Pengkhianat. Kolaborator penjajah. Orang yang tidak boleh masuk rumah ibadat. Tetapi Yesus tidak melihat dirinya melalui stigma itu. Yesus melihat seseorang yang hanya butuh disapa. Maka Dia mendekati meja pajak Matius dan mengucapkan dua kata yang mengubah segalanya: “Ikutlah Aku.”

Aneh, ya? Tetapi begitulah Yesus. Dia seperti dokter yang lebih suka mendatangi ruang gawat darurat daripada ruang VIP. Ia datang pada yang luka, yang gagal, yang tersesat—karena di situlah kasih paling nyata.

Ada pula Simon orang Zelot, yang berlatar belakang keras dan radikal. Bayangkan meja perjamuan murid: satu sisi Matius yang bekerja untuk Roma, sisi lain Simon yang ingin melawan Roma. Secara logika, dua orang ini tidak mungkin duduk berdampingan. Tapi Yesus sengaja memanggil keduanya, seolah berkata, “Tidak ada masa lalu terlalu berat sehingga Aku tidak bisa menyatukannya.”

Yesus seperti seorang pandai besi yang sengaja mengumpulkan besi-besi bekas yang bengkok, berkarat, dan dianggap tak berguna oleh orang lain. Tetapi di tangan-Nya, besi itu ditempa—dihantam, dipanaskan, dibersihkan—hingga akhirnya menjadi pedang tajam yang mampu mengubah sejarah. Begitulah para murid. Mereka bukan lahir sebagai pemimpin rohani. Mereka ditempa melalui perjalanan bersama Yesus: dari gagal memahami ajaran, sering takut, gampang marah, mudah goyah, hingga pada puncaknya—menjadi rasul yang mengubah dunia..

Itu artinya satu hal: Tidak ada identitas, reputasi, atau masa lalu yang dapat membatalkan panggilan Tuhan.

Sekarang, mari kembali kepada kita—para anggota Konfreria.
Ada di antara kita yang mungkin pernah jatuh dalam dosa. Ada yang pernah jauh dari Gereja. Ada yang pernah hidup berantakan. Ada yang merasa tidak pantas memegang rosario atau mengenakan seragam Konfreria. Bahkan mungkin ada yang merasa, “Saya ini tidak suci seperti anggota lain.”

Tetapi lihatlah kisah para murid. Mereka tidak lebih suci dari kita. Yang membedakan hanyalah satu: mereka berani datang ketika dipanggil.

Yesus tidak menunggu mereka membaik dulu.
Yesus tidak berkata, “Bersihkan hidupmu dulu, baru ikut Aku.”
Tidak. Dia memanggil mereka apa adanya, bukan seadanya.

Begitu pula dengan kita.
Ketika Anda berdiri membawa lilin prosesi, Tuhan tidak melihat baju Anda, tidak melihat catatan masa lalu Anda. Ia melihat hati yang berkata, “Tuhan, saya mau melayani-Mu.”

Tuhan tidak memakai orang sempurna—karena jika Ia melakukannya, maka tidak ada satu pun dari kita yang layak berdiri di hadapan-Nya. Tetapi Ia memakai orang biasa untuk menunjukkan bahwa semua karya besar berasal dari kasih-Nya, bukan kemampuan kita.

Konfreria bukan komunitas orang suci. Konfreria adalah komunitas orang yang disucikan, sedikit demi sedikit, hari demi hari, setiap kali kita berkata “ya” pada pelayanan.

Jadi kalau Anda masih merasa tidak layak, dengarkan baik-baik:

Justru Anda-lah yang paling dekat dengan hati Yesus.
Ia tidak memanggil yang sempurna. Ia memanggil yang mau berjalan.
Dan Ia tidak melihat siapa Anda kemarin—Ia melihat siapa Anda bisa menjadi hari ini dan besok.

Anda mungkin merasa seperti jala yang koyak.
Tetapi di tangan Tuhan, jala yang koyak pun bisa menampung mukjizat.

0 Komentar