Selamat Datang di Confreria Reinha Rosari Larantuka

Ketika Pintu Surga Terlihat di Italia



Ketika Pintu Surga Terlihat di Italia



Beberapa waktu lalu, seorang teman saya—seorang imam yang sudah bertahun-tahun bertugas di Italia—mengisahkan sesuatu yang sangat membekas di hati saya. Kami sedang berbincang santai ketika ia tiba-tiba mengatakan:

“Orang sering salah paham tentang ayat ‘lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum (Matius 19:24, Markus 10:25, Lukas 18:25).’ Saya pun dulu mengira Yesus benar-benar menunjuk pada lubang kecil di jarum jahit. Tapi ketika saya hidup di Italia, saya menemukan sesuatu yang membuat saya berkata: Oh, jadi ini maksudnya.”

Ia lalu mulai bercerita. Di beberapa kota tua Italia, terdapat pintu kecil di sisi benteng kota. Pintu itu sangat sempit dan rendah—bahkan orang dewasa harus menunduk dalam untuk melewatinya. Pintu itu disebut orang sebagai “The Hole of the Needle”.

Pada zaman dahulu, gerbang besar kota biasanya ditutup ketika malam tiba demi keamanan. Namun pintu kecil itu tetap dibiarkan terbuka untuk para pendatang yang datang terlambat. Sempitnya bukan untuk menyulitkan, tetapi agar penjaga kota mudah mengawasi siapa yang masuk.

Teman saya menambahkan, “Unta sebenarnya bisa masuk lewat pintu itu. Tapi, semua barang bawaannya—karung-karung, gulungan kain, kantong-kantong dagangan—harus diturunkan dulu. Setelah itu, unta harus merunduk, bahkan hampir melata, untuk bisa melewatinya.”

Saya terdiam membayangkan adegan itu.
Bukan pintunya yang mustahil.
Yang membuat sulit adalah beban yang dibawa.

Dan saat itulah sabda Yesus terasa makin jelas:

“Lebih mudah unta masuk melalui lubang jarum…”

Bukan karena Tuhan mempersulit orang kaya.
Bukan karena Surga hanya punya pintu kecil.
Tetapi karena manusia sering datang kepada hidup rohani dengan terlalu banyak beban yang enggan dilepaskan:
harta yang terlalu dicintai, ambisi yang terlalu dijunjung, gengsi yang terlalu dipertahankan, bahkan kekhawatiran yang tak pernah kita serahkan pada Tuhan.

Teman saya berkata lagi, “Saya baru benar-benar mengerti ketika melihat pintu itu. Sulitnya bukan karena pintunya sempit. Sulitnya karena kita sering membawa terlalu banyak yang sebenarnya bisa dilepas.”

Kisahnya membuat saya merenung.
Mungkin dalam hidup, Tuhan memang tidak menutup pintu bagi siapa pun.
Pintu itu selalu ada—meski kadang bentuknya kecil dan menuntut kita merunduk.

Yang menjadi pertanyaan adalah:
Apakah kita berani menurunkan beban-beban yang selama ini kita pertahankan?
Apakah kita bersedia merendahkan diri agar bisa masuk?

Kerajaan Allah bukanlah ruang bagi mereka yang datang dengan segala kebanggaan, tetapi bagi mereka yang hatinya ringan karena berani meletakkan apa yang membuat mereka berat.

Dan kisah ini mengingatkan saya pada pesan teman saya itu:
“Jika mau masuk, lepaskanlah apa yang membuatmu sulit melangkah. Tuhan tidak mempersempit pintunya, kita saja yang sering membawa terlalu banyak.”

0 Komentar