“Jangan Takut”: Ketika Langkah Kecil Kita Disertai Tangan yang Lebih Besar
Ketika seorang anak kecil pertama kali ikut prosesi Semana Santa, ada satu momen yang sering membuatnya berhenti sejenak: jalanan gelap, lilin-lilin kecil yang bergetar tertiup angin, dan lantunan ovos yang terdengar menyakitkan. Bagi sebagian anak, itu bisa menjadi pengalaman yang mendebarkan—bahkan menakutkan.
Namun biasanya, ada satu hal sederhana yang membuatnya tetap melangkah: tangan orang dewasa yang menggenggam tangannya. Selama tangan itu masih memegang erat, kegelapan tidak lagi menakutkan. Angin yang meniup lilin terasa biasa saja. Bahkan suara lantunan ovos yang menyayat hati menjadi bagian dari perjalanan yang harus dilewati.
Tangan itulah yang membuat seorang anak berani berjalan dalam suasana yang bagi dirinya terasa asing dan besar.
Dan menariknya, di tengah kerumunan, anak itu tidak pernah bertanya,
“Apakah aku mampu?”
yang ia tahu hanyalah,
“Yang memegang tanganku mampu.”
Kita sering lupa bahwa dalam hidup orang dewasa pun, ada banyak “jalan gelap” yang harus dilalui. Ada persoalan keluarga, tekanan pekerjaan, pelayanan yang berat, atau pergumulan batin yang tidak semua orang tahu. Beberapa perjalanan itu terkadang membuat kita seperti berjalan sendirian dalam prosesi malam—antara ingin maju tetapi takut tersandung.
Dalam saat-saat seperti itu, ayat sederhana dari Yesaya 41:10 kembali terdengar kuat:
“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau.”
Bukan karena kita kuat, melainkan karena ada tangan yang lebih kuat yang memegang kita. Sama seperti anak kecil dalam prosesi itu, keberanian kita bukan berasal dari kondisi di sekitar, tetapi dari siapa yang berjalan bersama kita.
Ada satu kisah lagi yang sering tidak disadari. Pernahkah kita memperhatikan seorang pengurus Konfreria yang harus bangun pagi-pagi sekali menjelang Semana Santa—menyiapkan altar, mengecek perlengkapan, memastikan jalannya prosesi, membantu anggota lain yang masih baru?
Di balik tenangnya prosesi, ada banyak ketegangan kecil: takut ada yang kurang, takut tidak berjalan sesuai tradisi, takut mengecewakan umat, takut tidak sanggup menjaga spiritualitas Maria di tengah tekanan teknis. Tetapi meski demikian, mereka tetap maju.
Apa yang membuat mereka kuat?
Sering kali jawabannya adalah kesadaran bahwa pelayanan ini bukan sekadar tugas organisasi, tetapi tanggapan atas panggilan iman. Ada keyakinan yang bekerja diam-diam:
“Kalau Tuhan memanggilku ke sini, Ia juga akan memampukanku di sini.”
Itulah makna terdalam dari “Jangan takut.”
Ia bukan slogan penghiburan, tetapi undangan untuk melangkah bersama Dia yang lebih besar dari semua kekhawatiran kita.
Sebagai Konfreria yang memegang devosi kepada Santa Maria, kita memiliki teladan yang luar biasa. Maria mengatakan “ya” kepada sesuatu yang jauh lebih sulit dari yang bisa dipahami manusia. Tetapi ia melangkah, bukan dengan rasa takut, melainkan dengan keyakinan bahwa Allah menyertainya.
Maka ketika tugas pelayanan terasa berat, ketika hati penuh kekhawatiran, atau ketika kita bertanya-tanya apakah kita sanggup menjaga tradisi dan spiritualitas yang suci ini, ingatlah satu hal:
Konfreria tidak berjalan sendiri.
Kita berjalan dalam naungan Bunda Maria.
Kita berjalan bersama Tuhan yang berkata,
“Jangan takut, Aku memegang tanganmu.”
Di jalan pelayanan ini—baik terang maupun gelap—kita tidak pernah dibiarkan sendirian.
Dan justru karena itulah, kita bisa tetap melangkah.
0 Komentar