Milik Kaisar dan Milik Allah dalam Terang Kemerdekaan
(Matius 22:15-21 — “Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar, dan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah”)
Pada suatu hari, seorang guru menaruh dua koin di atas meja di hadapan murid-muridnya. Satu koin bergambar wajah seorang raja, dan koin lainnya bergambar salib. Guru itu bertanya:
“Anak-anak, koin yang mana yang bisa membeli makanan di pasar?” Murid-murid serentak menunjuk koin bergambar raja.
“Benar,” kata guru itu, “karena dunia memiliki aturannya sendiri. Kita membutuhkan koin itu untuk hidup. Tetapi, koin dengan gambar salib ini—apakah nilainya lebih rendah?”
Sejenak kelas terdiam. Sang guru lalu berkata dengan lembut:
“Koin bergambar raja dapat memberi kita roti, tetapi koin bergambar salib memberi kita arah hidup. Yang satu menopang jasmani, yang lain menyelamatkan jiwa.”
Injil hari ini menegaskan bahwa: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar, dan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah.” Ketika mengucapkan kalimat ini, Yesus tidak sedang memisahkan iman dari kehidupan, tetapi justru mengajarkan keseimbangan. Kita boleh taat pada aturan negara, tetapi jangan pernah melupakan kewajiban tertinggi: menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, karena pada diri kitalah terpatri gambar-Nya.
Jika direnungkan dalam konteks 80 tahun Indonesia merdeka, pesan Injil ini terasa sangat relevan. Kita hidup dalam negara yang telah diperjuangkan dengan darah dan air mata para pahlawan. Kepada “Kaisar”—yakni negara—kita memberi ketaatan, pajak, kerja keras, disiplin, dan tanggung jawab sebagai warga bangsa. Tetapi, kepada Allah, kita menyerahkan hati, moralitas, kejujuran, dan kasih. Tanpa itu, bangsa merdeka pun bisa kehilangan arah.
Mari bayangkan Indonesia sebagai rumah besar. Pemerintah ibarat tukang bangunan yang menjaga atap, dinding, dan lantai rumah agar kokoh. Tetapi siapa yang memberi kehangatan cinta di dalam rumah itu? Itulah peran Allah melalui kita semua. Tanpa kasih, rumah merdeka hanya akan menjadi gedung megah yang dingin.
Maka, di usia 80 tahun kemerdekaan ini, marilah kita bertanya:
- Apakah kita sudah memberi “koin bergambar raja”—yaitu kerja nyata, kedisiplinan, dan pengabdian bagi bangsa?
- Apakah kita juga memberi “koin bergambar salib”—yaitu iman, kasih, dan kejujuran—bagi Allah yang menaruh gambar-Nya dalam diri kita?
Kemerdekaan sejati baru terwujud bila kedua koin itu berjalan seimbang. Negara kuat karena rakyatnya taat dan bertanggung jawab, dan rakyat hidup bermartabat karena hatinya selalu berpaut pada Allah.
0 Komentar