Dari "Pondok Bambu" ke Rumah Bina Saron:
75 Tahun Napas Panjang
Seminari San Dominggo Hokeng
Di kaki Gunung Lewotobi, pada sebuah pagi yang masih sarat bau garam dan rerumput basah, berdirilah “pondok bambu” yang lebih mirip gubuk benih ketimbang sekolah. Di sanalah, pada 15 Agustus 1950, sebuah benih kecil ditanam kedalam sejarah: Seminari San Dominggo Hokeng. Gagasannya lahir dari para misionaris SVD yang telah lama berkelindan dengan jejak Ordo Pewarta di Solor–Larantuka: P. G. van Velzen, SVD (Vikaris Jenderal Ende) dan P. A. van den Burg, SVD (Deken Larantuka) menjadi penggagas; peresmian dilakukan oleh P. H. van Eijck, SVD—rektor pertama—bersama P. A. Visser, SVD. Tiga puluh siswa perdana berkumpul, bangunannya bambu sederhana, tetapi mimpinya ditambatkan kuat: sekolah ini dipersembahkan kepada Santo Dominikus, mengikat memori pada ratusan tahun jejak pewartaan di Larantuka. Selebihnya adalah kisah napas panjang yang tak putus hingga kini, tujuh puluh lima tahun kemudian.
Empat tahun berselang, 1954, angkatan perdana menempuh Ujian Penghabisan di SMPK Yapenthom Maumere. Seperti bibit yang dipindahkan sementara ke tanah lain agar akarnya menguat, pada 1956 tiga angkatan awal “dititipkan” di SMA Seminari St. Yohanes Berkhmans Mataloko. Ritme ini—berlayar, berlabuh, berlayar lagi—membentuk karakter sebuah sekolah yang dari awal akrab dengan perjalanan. Lalu Agustus 1958, Mgr. Gabriel Manek, SVD, membuka tingkat SMA langsung di Hokeng—sebuah keputusan yang menancapkan akar lebih dalam pada tanah sendiri. Nama-nama awal seperti P. Paulus Boli Lamak, SVD; P. Hendrikus Molan Tokan, SVD; dan P. Yoakim Werang, SVD muncul sebagai pucuk-pucuk pertama di ranting sejarah itu.
Sesudahnya, batang pohon itu tambah tebal. Pada 23 Agustus 1961, Seminari Hokeng resmi memiliki tujuh kelas—tiga untuk SMP dan empat untuk SMA—sinyal bahwa “gubuk benih” telah menjelma menjadi kebun pembibitan yang serius. Tahun 1968, tingkat SMP ditutup dan dibuka Kelas Persiapan Bawah (KPB) yang mulai berjalan 2 Januari 1969; kemudian 9 Januari 1979 dibuka Kelas Persiapan Atas (KPA) sebelum ditutup pada 15 Agustus 1989. Dinamika jenjang ini seperti mengatur irama nafas: kapan menahan, kapan menghela, agar formasi tetap selaras dengan kebutuhan zaman dan arah Keuskupan.
Di lintasan waktu yang sama, para pendidik dan formatornya mengasah intelektualitas dan disiplin rohani. Dari generasi awal muncullah figur yang kelak menjadi rujukan tradisi akademik dan spiritual, termasuk Paulus Boli Lamak—“putra sulung Hokeng” dalam imamat—yang kemudian merayakan emas imamatnya dan tetap menjadi ingatan kolektif alumni sebagai guru yang menyalakan kemauan berpikir dan menulis. Di tangan para pendidik macam inilah, ruang kelas menjadi bengkel gagasan; majalah sekolah menjadi ladang latihan menabur ide.
Waktu berputar; manajemen pun beradaptasi. Memasuki dekade 1990-an, pengelolaan seminari menegaskan watak keuskupan: dari rumah misi yang dibidani SVD menjadi milik dan tanggung jawab Keuskupan Larantuka, sementara karya SVD tetap lekat sebagai rekan sekerja. Di tingkat praksis, struktur kepemimpinan seminari disesuaikan, menandai babak baru kolaborasi imam diosesan dan religius untuk formasi calon imam. Seperti kapal yang berganti nakhoda namun tetap setia pada kompas yang sama, arah pendidikan tetap mengacu pada sanctitas, scientia, dan sanitas—kesucian, ilmu pengetahuan, dan kesehatan.
Memasuki abad ke-21, Seminari Hokeng terus berdenyut sebagai salah satu simpul penting peta pendidikan seminari di Nusa Tenggara Timur. Posisi ini bukan klaim hampa; berbagai kajian dan dokumentasi menempatkan Seminari Hokeng—sejajar dengan Seminari Mataloko, Kisol, Oepoi dan lainnya—sebagai “mesin” pembentukan SDM Gereja dan masyarakat timur Indonesia. Akreditasi sekolah yang kuat, tata kelola yang diperbarui, serta jejaring alumni meneguhkan reputasi itu. Pohon yang dulu benihnya ditanam di tanah liat Hokeng kini benar-benar menaungi banyak ranting.
Namun badai juga mengajarkan cara berteduh. Setelah masa darurat, Seminari Hokeng bangkit di lokasi baru di kota Larantuka—kelurahan San Dominggo—memanfaatkan Rumah Bina Saron milik Keuskupan sebagai ruang belajar dan asrama sementara. Di alamat Jl. Mgr. Miguel Rangel No. 1–2 itu, lonceng doa kembali berdentang; MPLS tahun ajaran 2025/2026 berlangsung meriah; Ekaristi pembuka tahun ajaran dirayakan di aula Saron. “Rumah Bina” menjadi benar-benar rumah: tempat anak-anak remaja itu memulihkan ritme doa-belajar-kerja, sambil sekolah menata langkah pemulihan jangka panjang.
Dalam fase ini, wajah-wajah yang bekerja di belakang layar—para imam, frater, guru dan karyawan—menjadi mesin yang tak kenal lelah. Data Dapodik merangkum kepemimpinan sekolah dan akreditasinya; laporan media menyebut kapasitas tenaga pengajar serta formator yang siaga mengawal transisi. Di saat yang sama, Komsos Keuskupan Larantuka, lewat kanal berita dan siaran, menjaga denyut komunikasi publik: dari kabar kehadiran para suster Ordo Pewarta di seminari (Juni 2024) hingga diskusi menyongsong 75 tahun yang digelar Agustus 2025. Jaringan Gereja lokal—uskup, tarekat, paroki—bergerak seperti regu teknisi kapal, memastikan semua tali kembali kencang.
Di ruang kelas sementara itu, tradisi lama tetap dirawat: doa pagi yang menahan cemas, studi yang tekun, dan disiplin yang membentuk watak. Para seminaris belajar dari kisah para pendahulu: bagaimana pada 1954 mereka harus berangkat ke Maumere untuk ujian; bagaimana pada 1956 mesti “menumpang” di Mataloko; bagaimana pada 1958 kembali mengakar di tanah sendiri. Sejarah itu kini seperti cermin: kita pernah berpindah untuk bertahan, dan karena itu kita akan bisa bertahan lagi.
Seminari San Dominggo Hokeng, pada akhirnya, bukan nama bangunan, melainkan nama napas. Ia adalah napas panjang yang dimulai dari gubuk bambu, tumbuh menjadi kebun, lalu bertahan dari badai—dan hari ini, dalam pesta berlian ke-75, kembali menyalakan pelita harapan. Di tangan generasi baru—yang belajar di Rumah Bina Saron sambil memandang ke gunung yang dulu menguji mereka—pelita itu terasa lebih terang. Sebab mereka telah membuktikan, sebagaimana para pendiri dulu membuktikan, bahwa panggilan tidak retak oleh abu dan angin. Ia justru berkilau seperti berlian: tertekan, teruji, tetapi tak bisa dipatahkan.
0 Komentar