Bernika dalam Sunyi: Lima Belas Jiwa Dipanggil untuk Mengabdi
Tanggal 8 Agustus 2025 akan tercatat sebagai hari bersejarah bagi kelima belas candidato—mereka yang telah melewati proses pembinaan rohani, intelektual, dan emosional selama lebih dari satu bulan. Hari itu, dalam Misa Syukur yang khidmat dan agung di Kapela Tuan Ma, RD.Hendrik Leni,Pr selaku Deken Larantuka memimpin langsung upacara pelantikan dan penerimaan bernika, menandai pengesahan mereka sebagai anggota Konfreria. Namun lebih dari sekadar seremoni keanggotaan, hari itu adalah hari perutusan.
Momen penerimaan bernika berlangsung penuh haru. Satu per satu, para candidato maju ke depan altar. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada iringan lagu riuh. Yang terdengar hanyalah doa lirih dan kidung pujian yang mengalun perlahan dari sudut kapela. Saat sehelai bernika biru dikalungkan di leher —dalam bentuk sederhana, tanpa gemerlap—terjadi sesuatu yang tidak terlihat oleh mata: jiwa-jiwa ini menerima tugas pelayanan dalam diam.
Bernika bukan sekadar tanda pengenal. Ia adalah lambang beban spiritual yang kini ditanggungkan di pundak para anggota. Ia seperti stola di leher seorang imam, atau salib di balik jubah seorang biarawan—tak mencolok, tetapi penuh makna. Ia adalah tanda bahwa seseorang telah memilih hidup bukan untuk dilihat, tetapi untuk melayani. Dalam tradisi Konfreria, mengenakan bernika berarti siap menjadi bagian dari “barisan sunyi” dalam devosi Semana Santa dan seluruh ritus agung umat Katolik Larantuka.
Misa pelantikan ini tak ubahnya seperti peristiwa Yesus mengutus murid-murid-Nya dua per dua, tanpa bekal berlebih, hanya dengan kepercayaan dan misi. Romo Deken, dalam homilinya, menyampaikan bahwa menjadi anggota Konfreria bukanlah sebuah kehormatan duniawi, melainkan panggilan untuk menjadi saksi iman tanpa suara—menjadi bagian dari tubuh Gereja yang bekerja tanpa pamrih, bahkan tanpa dikenal.
Bayangkan seorang anggota Konfreria berdiri di persimpangan jalan saat prosesi Semana Santa: ia tidak saja memimpin doa, tidak saja mengangkat salib, dan tidak saja berdiri di altar. Namun ia juga menjaga jalur prosesi tetap suci, memastikan tidak ada yang melanggar batas, tidak ada yang mengotori kekhusyukan. Ia seperti batu pijakan yang diam, tapi meneguhkan pijakan langkah umat menuju Allah.
Usai Misa, suasana haru mewarnai ucapan selamat yang disampaikan dengan cara khas Konfreria: dengan tatapan penuh arti, dan pelukan sunyi. Tidak ada selebrasi berlebihan. Karena bagi Konfreria, kemeriahan sejati terjadi bukan di dunia, melainkan dalam hati.
Ketika Bunda Reinha Rosari—dalam arakannya kelak—melintas di tengah kota, diiringi barisan umat dan nyanyian duka, para anggota baru ini akan berada di sana. Mereka mungkin hanya terlihat seperti bayangan putih yang berdiri di tengah jalan. Tapi di balik bayangan itu, ada iman yang dipilih untuk hidup dalam sunyi, ada panggilan untuk menjadi saksi kasih Kristus dan cinta Bunda Maria dalam bentuk paling sederhana dan paling murni.
Kini, tugas itu telah diserahkan. Bernika telah dikenakan. Dan lima belas jiwa telah melangkah melewati ambang sejarah dan menjadi bagian dari keluarga besar Konfreria Reinha Rosari. Di bawah perlindungan Santo Dominikus dan Bunda Reinha Rosari, mereka tidak berjalan sendirian—mereka berjalan bersama barisan tak terlihat dari para anggota terdahulu yang telah lebih dahulu menyelesaikan tugas dalam diam.
Di dunia yang gemar mencari sorotan, mereka memilih untuk menjadi lilin kecil di lorong sunyi. Dan justru di sanalah, terang sejati itu tetap menyala.
0 Komentar