Rekoleksi: Jalan Sunyi Menuju Kebangkitan
Larantuka,5 April 2025 - Keheningan pagi di Kapela Tuan Ma berubah menjadi ruang batin yang dalam. Puluhan anggota Confreria Reinha Rosari Larantuka bersama Ibu-ibu dari Komunitas Santa Ana berkumpul dalam suasana penuh doa dan permenungan. Mereka mengikuti kegiatan rekoleksi rohani, yang diadakan oleh Seksi Pembinaan Rohani Panitia Semana Santa Paroki Katedral RRL, sebagai bagian dari persiapan hati menyambut perayaan Semana Santa atau Hari Bae Nagi.
Rekoleksi ini bukan sekadar rutinitas menjelang Pekan Suci, melainkan sebuah perjalanan sunyi ke dalam diri—menyusun ulang kepingan spiritualitas yang selama ini mungkin tercecer oleh kesibukan dan rutinitas hidup. Kegiatan ini menjadi panggilan untuk memperbarui relasi personal dengan Allah dan sesama.
Dipandu oleh Romo Vikjen, RD Gaby Da Silva, Pr., para peserta diajak menyelami kembali panggilan sebagai anggota Confreria dan sebagai anggota komunitas Santa Ana: agar menjadi pribadi yang hadir bagi sesama dengan ketulusan hati, sebagaimana yang telah diteladankan oleh Bunda Maria yakni hening dalam doa, taat dalam iman, dan setia dalam penderitaan.
Dalam perspektif teologi spiritual, Maria menjadi cermin spiritualitas sejati: tidak mencolok, tetapi mengakar. Tidak berteriak, tetapi berdaya ubah. Ia hadir di tengah kehidupan, bukan sebagai tokoh jauh di altar, melainkan sebagai ibu yang menuntun dalam diam. Spiritualitas Maria adalah spiritualitas jalan sunyi—jalan tanpa banyak kata, namun penuh makna.
Sebagai puncak kegiatan, para peserta menerima Sakramen Pengakuan Dosa—sebuah momen sakral yang mengalirkan kasih dan pengampunan Allah secara personal. Sakramen ini menjadi ruang refleksi, pengakuan, dan pembaruan; ruang di mana setiap umat dituntun untuk meninggalkan yang lama dan membuka diri terhadap rahmat yang baru.
Dari sisi psikospiritual, pengakuan dosa bukan hanya ritual, tetapi juga proses pemulihan batin—sebuah bentuk cleansing jiwa yang membawa kelegaan dan kekuatan baru untuk melanjutkan hidup. Di Kapela Tuan Ma, dalam hening yang syahdu, para peserta menemukan kembali keseimbangan spiritual yang seringkali tergeser oleh kehidupan duniawi.
Melalui rekoleksi ini, semangat Semana Santa dijernihkan kembali. Ia bukan sekadar prosesi atau seremoni, tetapi panggilan untuk berubah, untuk kembali menata hidup dengan roh Maria yang penuh kelembutan, keberanian, dan keteguhan. Seperti benih yang tumbuh dalam tanah sunyi, kebangkitan sejati pun lahir dari hati yang berani menyepi dan bertobat.
0 Komentar