Selamat Datang di Confreria Reinha Rosari Larantuka

Latihan Koor Muji Hari Kedua (Rabu Trewa)


Latihan Koor Muji Hari Kedua (Rabu Trewa)


Larantuka,19 Maret 2025-Kelompok Koor Muji CRRL  mengadakan latihan hari kedua dalam rangka mempersiapkan Lamentasi Rabu Trewa yang akan dilaksanakan pada 15 April 2025 mendatang. Latihan ini berlangsung di rumah Bpk.Irmao Rikus Waton, yang berlokasi di Perfetura Maria Aleluya. Fokus utama latihan kali ini adalah penghayatan dan keselarasan vokal dalam membawakan lagu-lagu pada Rabu Trewa. Salah satu lagu yang menarik untuk diulas adalah lagu Stabat Mater Dolorosa.


Lagu Stabat Mater Dolorosa merupakan salah satu himne liturgis yang paling dikenal dalam tradisi Katolik. Secara harfiah, judulnya berarti "Bunda yang Berdukacita," merujuk pada penderitaan mendalam Bunda Maria saat menyaksikan Putranya, Yesus Kristus, tergantung di kayu salib.


Himne ini diyakini ditulis pada abad ke-13 dan sering dikaitkan dengan seorang biarawan dari Ordo Fransiskan, Jacopone da Todi (1230–1306). Ia adalah seorang penyair religius yang dikenal dengan karya-karya mistiknya yang penuh penghayatan mendalam terhadap penderitaan Kristus. Namun, atribusi ini masih diperdebatkan oleh para sejarawan, karena ada beberapa versi awal himne yang mungkin berasal dari penulis lain.


Pada tahun 1727, Stabat Mater Dolorosa secara resmi dimasukkan dalam liturgi Gereja Katolik oleh Paus Benediktus XIII, dan sejak saat itu menjadi bagian integral dari perayaan Jumat Agung serta prosesi Semana Santa, khususnya di Spanyol, Italia, dan beberapa wilayah yang memiliki tradisi Katolik yang kuat, termasuk Indonesia.


Lirik Stabat Mater Dolorosa terdiri dari 20 bait dengan pola berima (AA BB), menghadirkan kesedihan Bunda Maria dalam bentuk doa yang penuh kontemplasi. Secara tematis, himne ini terbagi ke dalam tiga bagian utama. Bagian pertama menggambarkan kesedihan mendalam Bunda Maria saat berdiri di kaki salib, menyaksikan Putranya disiksa dan wafat. Kata-kata seperti dolorosa (berdukacita), lacrimosa (menangis), dan contristata (berduka) memperkuat suasana emosional yang mendalam.


Selanjutnya, himne ini mengandung refleksi spiritualitas dan devosi yang mengajak umat beriman untuk merenungkan penderitaan Kristus. Liriknya membangkitkan empati terhadap penderitaan Maria dan Yesus, sekaligus menumbuhkan rasa cinta yang lebih dalam kepada Tuhan.


Bagian terakhir berisi doa dan harapan keselamatan, di mana umat beriman memohon kepada Maria agar membantu mereka mengalami kasih Kristus dan memperoleh keselamatan. Ungkapan seperti fac ut (buatlah agar) dalam bait-bait terakhir mencerminkan permohonan rahmat ilahi melalui penderitaan Kristus.


Stabat Mater Dolorosa sering dinyanyikan dalam berbagai perayaan dan prosesi yang berfokus pada sengsara Yesus dan kesedihan Bunda Maria. Salah satu momen utama adalah perayaan Jumat Agung, di mana himne ini menjadi bagian dari ibadat yang mengenang wafat Yesus. Selain itu, dalam Semana Santa (Pekan Suci), lagu ini kerap dinyanyikan dalam prosesi yang menampilkan devosi kepada Maria yang berdukacita.

Selain digunakan dalam liturgi Pekan Suci, Stabat Mater Dolorosa juga dinyanyikan dalam Misa Requiem atau perayaan arwah, di mana umat berdoa bagi jiwa orang yang telah meninggal. Keindahan lirik dan maknanya yang mendalam telah menginspirasi banyak komponis besar, seperti Giovanni Battista Pergolesi, Antonio Vivaldi, Gioachino Rossini, dan Franz Liszt, yang menciptakan berbagai pengaturan musik untuk himne ini. Pengaruhnya yang luas dalam dunia musik  menunjukkan betapa kuatnya makna spiritual dan artistik yang terkandung dalam himne ini.


Latihan koor Muji CRRL hari kedua untuk Lamentasi Rabu Trewa berjalan dengan baik. Melalui latihan ini, diharapkan koor dapat membawakan lagu dengan penuh penghayatan pada hari pelaksanaan Lamentasi Rabu Trewa, sehingga dapat membawa umat lebih dekat dalam perenungan makna pengorbanan Kristus dan kesetiaan Bunda Maria dalam karya keselamatan Allah.










0 Komentar