Anjangsana Penuh Haru di Rutan Kelas 2B Larantuka: Menjalin Kasih dalam Doa dan Pengampunan
Larantuka, 21 Maret 2025 - Langit senja di Larantuka begitu cerah ketika rombongan Konfreria Reinha Rosari Larantuka (CRRL) melangkah memasuki Rumah Tahanan (Rutan) Kelas 2B Larantuka untuk mengadakan kegiatan anjangsana. Anjangsana, yang berarti kunjungan persaudaraan penuh kasih, bukan sekadar pertemuan biasa, tetapi sebuah bentuk kepedulian yang menghidupkan kembali harapan bagi mereka yang menjalani masa pembinaan. Di balik jeruji besi, ada kisah-kisah yang menunggu untuk didengar, ada hati yang ingin didekap dalam doa, dan ada jiwa yang merindukan uluran kasih.
Terletak di salah satu sudut kota Larantuka, Rutan Kelas 2B berdiri dengan dinding-dinding tinggi yang kokoh, seolah menjadi benteng yang membatasi dunia luar dengan dunia di dalamnya. Pintu gerbang besi berwarna hitam terbuka perlahan, menyambut rombongan Konfreria yang melangkah masuk dengan hati penuh empati. Berbeda dari bayangan banyak orang tentang tempat yang suram, area dalam rutan justru menawarkan pemandangan yang menenangkan, bak sebuah biara. Rumput hijau membentang di beberapa sudut, tertata rapi di antara jalur setapak berbatu yang mengarah ke berbagai blok. Ada taman, memberikan keteduhan dan menghadirkan nuansa damai bagi siapa pun yang melangkah disana.
Di tengah kompleks ini, terdapat Kapela Santo Petrus, sebuah bangunan sederhana dengan jendela-jendela kecil yang membiarkan sinar matahari masuk, menciptakan suasana teduh dan damai. Kapela ini menjadi titik terang bagi para tahanan yang ingin mencari ketenangan batin di tengah masa hukuman mereka. Langit-langitnya rendah tanpa bangku dan di ujung altar berdiri sebuah salib yang menjadi simbol pengharapan bagi mereka yang berdoa di sana.
Di sanalah, kegiatan Jalan Salib dimulai. Langkah demi langkah, umat setempat dan para tahanan menyusuri setiap perhentian, merenungkan kesengsaraan Yesus Kristus. Dalam kesunyian yang syahdu, terdengar lagu-lagu penuh pilu tentang kisah sengsara-Nya. Suara paduan koor menggema, menyanyikan bait-bait yang menusuk kalbu. Banyak yang tak kuasa menahan air mata, termasuk para tahanan yang merasakan betapa beratnya perjalanan Yesus menuju Golgota, seolah mencerminkan perjuangan mereka sendiri dalam menjalani kehidupan di balik tembok tinggi ini.
Setelah Jalan Salib, suasana semakin hangat ketika sesi tatap muka dimulai, dipandu oleh Ibu Adelheid Karolina, staf subseksi pelayanan tahanan. Sebanyak 110 tahanan hadir dalam pertemuan ini. Berdasarkan informasi bahwa total tahanan berjumblah 134 dengan komposisi 24 orang Muslim dan sisanya beragama Kristen. Kepala Keamanan Rutan, Bapak Remi Gius Lalang, yang mewakili Kepala Rutan, menyampaikan sambutan yang menggugah hati. "Mereka bukanlah penjahat, mereka adalah orang-orang yang tersesat. Mereka berada di sini bukan untuk dihukum, tetapi untuk berbenah diri kemudian kembali pulang melalui jalan yang benar."
Pernyataan itu menghujam dalam dada, membangkitkan kesadaran bahwa setiap manusia berhak untuk berubah, untuk kembali menjadi lebih baik. Sementara itu, Procurador Konfreria Larantuka, Bapak Fransiskus Da Costa, menyampaikan pesan moral tentang pengampunan dan harapan. "Tuhan tidak melihat masa lalu kita, tetapi bagaimana kita ingin memperbaiki diri di masa depan. Setiap orang layak mendapatkan kesempatan kedua."
Suasana semakin menyentuh hati ketika lagu-lagu lamentasi Jumat Agung dilantunkan oleh koor Muji CRRL. Nyanyian Ejus dan O Vos yang dibawakan para ibu-ibu terdengar begitu sendu, seolah mengisahkan penderitaan dan pengorbanan Yesus dalam nada-nada lirih yang penuh penyesalan. Sejumlah tahanan tampak menundukkan kepala, ada yang berdoa dalam diam, ada pula yang diam-diam menyeka air mata.
Sebagai bentuk nyata kasih persaudaraan, Konfreria Reinha Rosari Larantuka menyerahkan bingkisan kepada para tahanan. Bingkisan itu bukan sekadar materi, tetapi simbol harapan bahwa mereka tidak sendiri.
Di akhir kegiatan, momen yang paling mengharukan terjadi. Para tahanan berdiri berjejer, dari tangga dalam rutan hingga pintu keluar. Dengan mata berkaca-kaca, mereka disalami satu per satu anggota rombongan yang hendak meninggalkan tempat itu. Jabat tangan erat, tatapan yang penuh makna, dan kata-kata perpisahan yang tertahan di tenggorokan menciptakan suasana yang begitu emosional.
Di antara langkah-langkah yang beranjak keluar dari Rutan Kelas 2B Larantuka, terselip doa dan harapan. Bagi para tahanan, hari ini bukan sekadar kunjungan, tetapi sebuah momen yang membangkitkan harapan. Bagi umat yang hadir, ini adalah pengingat bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk bertobat dan kembali pada kebaikan. Di balik tembok tinggi yang membatasi kebebasan, ternyata ada pintu lain yang tetap terbuka lebar—pintu pengampunan dan kasih Tuhan.
0 Komentar