Selamat Datang di Confreria Reinha Rosari Larantuka

Misteri Trinitas: Percakapan di Senja Hari




Misteri Trinitas: Percakapan di Senja Hari



Mentari soreh perlahan tenggelam di balik bukit, seolah melukis langit dengan guratan emas dan ungu yang berbaur harmonis. Burung-burung gereja kembali ke sarangnya, sementara angin semilir membawa aroma tanah basah setelah gerimis tipis. Suasana di halaman biara kecil itu terasa hening, seakan alam sendiri tengah berdoa.

Adrian, pria paruh baya dengan tatapan penuh keraguan, duduk di bangku kayu yang mulai lapuk. Wajahnya menyiratkan pencarian panjang—seperti pengelana yang haus namun tak tahu di mana menemukan mata air. Di sebelahnya, Romo Bernard, dengan jubah abu-abu sederhana, menyesap teh hangat dari cangkir tanah liat, seolah waktu adalah sahabat yang sabar.

"Romo," suara Adrian memecah keheningan, "aku datang bukan untuk mencari Tuhan, tetapi untuk memahami... Mengapa orang percaya pada sesuatu yang tak bisa dilihat? Terlebih lagi, konsep Trinitas—satu menjadi tiga, tiga menjadi satu... Bukankah itu terdengar seperti teka-teki yang tidak masuk akal?"

Romo Bernard tersenyum lembut, seperti seorang ayah yang mendengar pertanyaan anak kecil tentang bintang-bintang. Matanya menatap horizon yang mulai meredup.

"Adrian, iman memang sering kali seperti senja ini. Kita tidak selalu melihat matahari secara langsung, tetapi kita tahu bahwa cahayanya ada. Sebelum kita masuk pada analogi, izinkan aku membawamu melintasi lorong waktu, menelusuri bagaimana misteri ini lahir dalam pergulatan panjang iman Gereja."

"Konsep Trinitas bukanlah hasil khayalan sekejap, melainkan buah dari permenungan para bapa Gereja. Pada abad ke-2, Tertulianus memperkenalkan istilah Trinitas, menggambarkan Allah sebagai satu substansi dalam tiga pribadi: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Ia menggunakan kata persona untuk menunjukkan bahwa ketiganya berbeda, tetapi tetap dalam satu esensi yang sama."

Adrian menatap api lilin di sudut halaman, seakan berusaha menangkap makna dalam gemetar cahaya kecil itu.

"Namun, pemahaman ini tidak serta-merta diterima. Pada abad ke-4, Konsili Nicea (325) menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Homoousios, sehakikat dengan Bapa. Konsili ini menolak ajaran Arius yang mengatakan bahwa Yesus hanyalah ciptaan. Lalu, Flavianus dari Antiokhia memperjuangkan kebenaran bahwa Roh Kudus juga berasal dari Bapa dan Putra—satu hakikat dalam kasih yang saling mengalir. Misteri ini kemudian dirumuskan dalam Kredo Nicea-Konstantinopel, yang menjadi dasar iman Gereja hingga kini."

Romo Bernard menatap mentari yang kian merunduk.

"Sekarang mari kita melihat bagaimana misteri ini hadir dalam kehidupan kita, Adrian. Lihatlah matahari itu. Ia satu, tetapi dari dirinya terpancar cahaya yang menerangi, dan panas yang menghangatkan. Matahari, cahaya, dan panas—tiga hal yang berbeda, tetapi tak terpisahkan. Begitu juga Allah Tritunggal. Allah Bapa adalah sumber kasih, Putra adalah cahaya yang menerangi dunia, dan Roh Kudus adalah kehangatan kasih yang kita rasakan."

Adrian memejamkan mata, membiarkan hangatnya sinar terakhir matahari menyentuh wajahnya. Namun, matanya kembali terbuka, penuh skeptisisme.

"Tapi Romo, matahari adalah benda mati. Tuhan tidak bisa disamakan dengan sesuatu yang fana."

Romo Bernard tersenyum, lalu menyalakan lilin kecil di atas meja kayu.

"Lihat lilin ini. Api memberikan cahaya dan panas sekaligus. Cahayanya menerangi, panasnya menghangatkan, dan apinya tetap satu. Tapi lilin ini juga memberikan bayangan, Adrian. Apakah bayangan itu bagian dari lilin atau sekadar pantulan?"

Adrian menatap bayangan yang menari di tembok batu. "Bayangan itu ada karena cahaya, tetapi bukan lilin itu sendiri."

"Tepat! Allah Bapa adalah api kasih, Yesus adalah cahaya yang menuntun, dan Roh Kudus adalah panas yang menghangatkan hati. Tanpa salah satu, cahaya itu tidak sempurna. Trinitas bukan soal wujud, tetapi tentang relasi. Allah adalah kasih, dan kasih hanya bisa ada dalam hubungan."

Romo Bernard mengambil kendi tanah liat berisi air dan menuangkannya ke dalam gelas.

"Air ini bisa kau minum, menyegarkan dahagamu. Jika aku mendidihkannya, ia menjadi uap yang tak terlihat tetapi tetap air. Jika aku membekukannya, ia menjadi es yang padat. Air, uap, dan es—tiga bentuk, satu substansi. Begitu pula Allah. Trinitas adalah misteri yang tidak bisa sepenuhnya dimengerti, tetapi bisa dirasakan dalam kehidupan."

Adrian menatap air dalam gelas, ada kilauan kecil di sudut matanya, seolah sesuatu mulai retak di dalam dirinya.

"Jika Allah adalah kasih... apakah itu berarti kasih tetap ada bahkan ketika kita meragukannya?" suaranya bergetar.

Romo Bernard menaruh tangan lembut di bahu Adrian. "Kasih Allah tidak pernah pergi, Adrian. Ia seperti matahari di balik awan, tetap bersinar meski tak terlihat. Bahkan ketika kau menolak-Nya, kasih itu terus menunggumu."

Senja perlahan menelan cahaya, tetapi di hati Adrian, percikan kecil mulai menyala. Ia mengambil salib kecil dari tangan Romo Bernard, menggenggamnya erat seolah menemukan sesuatu yang selama ini hilang.

"Romo... mungkin aku belum percaya sepenuhnya... tapi aku ingin belajar."

Romo Bernard tersenyum lebar, matanya berbinar. "Adrian, Iman adalah perjalanan dan setiap perjalanan dimulai dengan langkah kecil."

0 Komentar