Menggali Akar Sejarah Devosi Semana Santa di Larantuka
Semana Santa atau Pekan Suci merupakan rangkaian perayaan liturgi yang sangat penting dalam tradisi Gereja Katolik. Perayaan ini berlangsung selama satu minggu menjelang Hari Raya Paskah dan dimaksudkan untuk mengenang serta merenungkan kembali kisah sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus. Dimulai dengan Minggu Palma, yang memperingati peristiwa masuknya Yesus ke Yerusalem, Pekan Suci kemudian berlanjut dengan dengan Rabu Trewa, sebuah hari doa dan pertobatan yang khas, yang mengacu pada momen pengkhianatan Yudas Iskariot terhadap Yesus. Istilah Trewa berasal dari bahasa Portugis yang berarti tangisan atau ratapan, mencerminkan suasana duka dan permenungan yang mendalam. Selanjutnya, Kamis Putih, yakni saat Yesus mengadakan Perjamuan Terakhir bersama para murid-Nya. Jumat Agung menjadi momen puncak untuk mengenang penderitaan dan penyaliban Yesus di kayu salib, diikuti oleh Sabtu Suci sebagai hari hening dan penantian akan kebangkitan-Nya. Pekan ini ditutup dengan perayaan Minggu Paskah, yang menjadi lambang kemenangan atas kematian dan dosa. Tradisi Semana Santa telah lama dikenal di negara-negara Katolik, terutama di kawasan Iberia seperti Spanyol dan Portugal, dan tersebar ke berbagai wilayah dunia melalui para misionaris, termasuk ke Indonesia bagian timur.
Di Indonesia, perayaan Semana Santa yang paling dikenal dan unik terdapat di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Devosi Semana Santa di Larantuka memiliki ciri khas unik jika dibandingkan perayaan Pekan Suci di negara lain. Di Spanyol atau Amerika Latin, Semana Santa umumnya berfokus pada Devosi Jalan Salib (Via Crucis) , sedangkan di Larantuka,perayaan semana santa tidak hanya difokuskan pada Devosi Jalan Salib (Via Crucis) , tetapi juga pada Devosi Maria Bunda Berdukacita (Maria Mater Dolorosa) dan pelaksanaan Ritus Semana. Tradisi ini telah berlangsung selama lebih dari lima abad dan merupakan warisan kebudayaan rohani yang sangat kental dengan nuansa keagamaan Katolik yang dipengaruhi oleh budaya Portugis.
Namun yang menarik untuk digali adalah darimana akar sejarah Devosi Jalan Salib (Via Crucis) dan Devosi Maria Bunda Berdukacita ( Maria Mater Dolorosa) ? Jika dianalisis secara mendalam maka akan ditemukan sejumblah peristiwa-peristiwan iman yang menguatkan kehadiran devosi semana santa di larantuka ini.
A. Tradisi Devosi Jalan Salib (Via Crucis)
Selama masa prapaskah, setiap hari jumad,umat katolik dilarantuka mengadakan devosi jalan salib untuk merenungkan kisah sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Tradisi devosi jalan salib ini merupakan tradisi dari peziarah kristen di Yerusalem. Sejarahnya dimulai setelah Kaisar Konstantinus Agung dan Licinus melegalkan agama Kristen melalui Edik Milano (sebuah dekret yang menjamin kebebasan beragama di seluruh Kekaisaran Romawi) pada tahun 313 M, banyak peziarah kristen yang datang ke Yerusalem melakukan prosesi mengenang penderitaan Yesus dengan berjalan di Via Dolorosa, yaitu rute yang dipercaya sebagai jalur yang ditempuh Yesus dari tempat pengadilan di Benteng Antonia menuju Kalvari (Golgota). Perjalanan ini menjadi simbol spiritual bagi umat Kristen untuk merenungkan pengorbanan Kristus. Praktik ini kemudian dicatat oleh seorang peziarah bernama Egeria, yang mengunjungi Yerusalem antara tahun 381–384 M sebagai salah satu bentuk kesaksian.Karena tidak semua orang kristen bisa berziarah ke Tanah Suci, Ordo Fransiskan kemudian memperkenalkan "Jalan Salib" di gereja-gereja Eropa, dengan menggambarkan perhentian-perhentian perjalanan Yesus sehingga mempermudah umat memvisualisasi penderitaan yesus Kristus. Pada tahun 1731 Paus Klemens XII secara resmi menetapkan 14 perhentian Jalan Salib sebagai bagian dari devosi universal Gereja Katolik. Devosi Jalan Salib dengan 14 perhentian inilah yang kemudian digunakan oleh orang Larantuka sampai saat ini.
B. Tradisi Devosi Maria Bunda Berdukacita (Maria Mater Dolorosa)
Mater Dolorosa atau Bunda Berdukacita merupakan gelar yang diberikan kepada Maria, ibu Yesus, untuk menggambarkan penderitaan dan kesedihan mendalam yang ia alami sebagai ibu yang menyaksikan langsung penderitaan, penyaliban, dan wafat Putranya. Gereja melihat Maria bukan hanya sebagai ibu biologis Yesus, melainkan juga sebagai figur yang ikut menderita bersama Putranya demi keselamatan manusia. Oleh karena itu, Paus Pius X dalam ensikliknya Ad Diem Illum Laetissimum (1904) menekankan bahwa Maria turut serta dalam penderitaan penebusan Kristus. Ia disebut sebagai Co-redemptrix, bukan dalam arti menyamai Kristus, tetapi sebagai partisipan yang luar biasa dalam karya penyelamatan melalui penderitaannya sebagai seorang ibu.
Oleh orang larantuka, gelar Mater Dolorosa diwujudkan dalam bentuk devosi kepada Tuan Ma, yakni patung Bunda Maria Berdukacita. Dalam devosi ini, Patung Tuan Ma menjadi pusat perhatian dalam dalam prosesi Jumat Agung (Sesta Vera) . Patung Tuan Ma ini kemudian diarak bersama umat melewati delapan perhentian yang disebut "armida," dimana masing-masing armida memiliki makna teologis dan budaya mendalam, yang selama ini dijaga oleh suku-suku semana.
1) Armida Missericordia (Pantai Besar)
Melambangkan kerinduan umat manusia akan janji penyelamatan Allah melalui pengutusan Putra-Nya. Armida ini dijaga oleh suku Mulawato dan Lawerang Pante Besar.
2) Armida Tuan Meninu (Tuan Bayi Anak)
Menggambarkan pemenuhan janji Allah dengan kelahiran Yesus. Dijaga oleh suku Rewido .
3) Armida Yesus Mesias Anak Allah
Merenungkan kehidupan dan karya Yesus selama di dunia. Dijaga oleh suku Ama Kelen dan Ama Hurint di Balela .
4) Armida Tuan Trewa (Tuan Terbelenggu)
Melukiskan penderitaan Yesus yang ditangkap dan diadili. Dijaga oleh suku Kapitan Jentera Aikoli.
5) Armida Pante Kebis
Menggambarkan Bunda Maria yang berduka cita dan umat yang bersatu dalam penderitaan Yesus. Dijaga oleh suku Riberu – Da Gomes .
6) Armida Santo Antonius (Pohon Sirih)
Merenungkan Yesus yang dijatuhi hukuman mati tanpa bersalah, simbol keadilan yang diadili. Dijaga oleh suku Sau – Diaz Pohon Asam .
7) Armida Kuce
Melambangkan wafatnya Yesus di salib untuk menebus dosa manusia. Dijaga oleh Raja Ama Koten dan keluarga Diaz Viera de Godinho (DVG) .
8) Armida Tuan Ana (Lohayong)
Menggambarkan penurunan Yesus dari salib dan pemakaman-Nya. Dijaga suku Ama Kelen Bulan Terang de Rosari .
Lalu bagaimana akar sejarah devosi Bunda Berdukacita (Mater Dolorosa) ini muncul di Larantuka ?
1) Penemuan Patung Tuan Ma
Salah satu elemen penting dalam devosi kepada Bunda Maria di Larantuka adalah penemuan patung Bunda Maria yang dikenal sebagai Tuan Ma. Menurut cerita tradisional, sekitar tahun 1510, ada seorang pemuda bernama Tukan Weling Resiona sedang mencari siput di pantai kuce. Di sana, ia melihat seorang wanita cantik duduk di pasir pantai, tampak sedang menulis di pasir. Resiona bertanya kepada wanita itu tentang nama dan asal-usulnya, namun wanita tersebut tidak menjawab. Sebaliknya, ia hanya menunduk dan menulis tiga kata di pasir yang tidak dipahami oleh Resiona.
Karena takut, resiona kemudian kembali ke kampung dan mengajak masyarakat untuk melihat kejadian tersebut. Ketika mereka tiba di lokasi, wanita itu sudah mengilang, yang mereka temukan hanyalah patung (Tuan Ma), dengan tulisan di pasir yang kemudian diketahui sebagai "Reinha Rosario Maria". Patung itu kemudian dibawa ke korke, rumah adat suku, dan dihormati sebagai benda keramat.
Patung tersebut dianggap sebagai simbol kehadiran Maria di tengah-tengah masyarakat, dan peristiwa penemuannya menandai awal mula berkembangnya devosi Bunda Maria yang lebih formal di wilayah ini.Patung Tuan Ma memiliki arti penting karena dianggap sebagai simbol kehadiran dan perlindungan Bunda Maria bagi masyarakat Larantuka. Nama Tuan Ma sendiri berasal dari bahasa lokal yang berarti "Ratu," dan patung tersebut dihormati sebagai Ratu dari segala berkat yang dilimpahkan kepada komunitas lokal. Sejak penemuan patung ini, devosi kepada Bunda Maria melalui Tuan Ma menjadi lebih terorganisir, dan masyarakat mulai mempraktikkan ritual penghormatan yang melibatkan prosesi serta doa bersama.
2) Kedatangan Ordo Dominikan
Sejarah penyebaran iman Katolik di wilayah Nusa Tenggara Timur, khususnya di Larantuka, tidak lepas dari peran besar Ordo Dominikan yang mulai hadir di Nusantara pada abad ke-16. Para misionaris dari ordo ini datang membawa semangat evangelisasi serta memperkenalkan devosi khas Katolik, salah satunya adalah penghormatan kepada Santa Perawan Maria melalui doa Rosario. Kehadiran mereka tidak hanya menyebarkan ajaran iman, tetapi juga menanamkan akar spiritual yang dalam bagi masyarakat setempat.
Salah satu tonggak penting terjadi pada tahun 1617, ketika Pastor Manuel de Kargas berhasil menjalin dialog dengan Raja Larantuka. Dalam pertemuan tersebut, ia menjelaskan bahwa sosok yang selama ini dihormati sebagai “Tuan Ma” sebenarnya adalah Bunda Maria, ibu dari Yesus Kristus—Sang Penebus yang membawa keselamatan bagi umat manusia. Penjelasan ini membuka mata batin Raja dan masyarakat Larantuka, yang sejak itu mulai menerima iman Katolik dengan lebih sadar dan terarah.
Transformasi keagamaan ini mencapai puncaknya pada tahun 1650, ketika Raja Ola Adobala dibaptis secara resmi dan menyerahkan Kerajaan Larantuka di bawah perlindungan Bunda Maria. Tidak berhenti di situ, pada tahun 1665, putranya yang bergelar Raja Don Gaspar I memulai tradisi mengarak patung Tuan Ma dalam prosesi sakral keliling kota, sebuah praktik yang hingga kini menjadi inti dari perayaan Semana Santa di Larantuka.
Tradisi ini terus diperkaya oleh penerusnya, Raja Don Lorenzo I, yang kemudian memberikan gelar tertinggi kepada Maria sebagai “Ratu Orang Larantuka”. Gelar ini mengakar kuat dalam identitas religius dan budaya kota Larantuka, yang kemudian dikenal sebagai “Kota Reinha” (dari bahasa Portugis yang berarti ‘kota ratu’). Sejak saat itu, Tuan Ma diyakini sebagai pelindung utama kota, dan devosi kepadanya menjadi jantung kehidupan spiritual umat Katolik Larantuka.
3) Peran Raja Larantuka, Konfreria serta Suku Semana
Bangsa Portugis secara formal mulai meninggalkan dominasi politik dan administratif di Larantuka pada pertengahan abad ke-19. Tepatnya, penyerahan kedaulatan wilayah Larantuka dari Portugis kepada Belanda secara resmi terjadi pada tahun 1859 berdasarkan perjanjian politik antara Portugal dan Belanda yang dikenal sebagai Traktat Den Haag atau "Treaty of Lisbon" (1859). Dalam perjanjian ini, Portugis menyerahkan klaimnya atas beberapa wilayah di Nusa Tenggara, termasuk Larantuka, kepada pemerintah Hindia Belanda.
Pemerintah kolonial Belanda, yang mayoritas Protestan, tidak terlalu mendukung perkembangan Katolik di daerah ini. Akibatnya, tidak ada upaya untuk mengirim misionaris Katolik ke Larantuka selama periode ini. Selain itu, Larantuka merupakan wilayah kepulauan yang saat itu sulit dijangkau, sehingga mendatangkan pemimpin rohani baru dari luar menjadi tantangan besar.
Dalam situasi ini, Raja Larantuka yang berkuasa pada waktu itu mengambil langkah strategis untuk mempertahankan iman Katolik rakyatnya. Bersama Konfreria, yang merupakan serikat persaudaraan peninggalan ordo Dominikan, ia mengajak masyarakat untuk tetap menjalankan ibadah meskipun tanpa kehadiran imam. Salah satu cara yang diterapkan adalah melaksanakan Doa Rosario setiap hari Sabtu. Doa Rosario dipilih karena sifatnya yang bisa dilakukan secara bersama-sama dan telah diajarkan oleh para misionaris Dominikan sebelum mereka pergi. Doa ini dilaksanakan di kapela-kapela kecil (Tori) yang dibangun oleh berbagai suku kerabat di Larantuka yang kemudian dikenal sebagai suku semana. Selain itu, masyarakat setempat kemudian membentuk komunitas yang bertanggung jawab untuk menjaga patung-patung suci dan benda-benda peninggalan Katolik dari era Portugis.
Konfreria Reinha Rosari sendiri adalah sebuah serikat persaudaraan atau organisasi umat Katolik yang dibentuk di Larantuka dengan tujuan memperkuat devosi kepada Bunda Maria melalui aktivitas liturgi dan prosesi religius. Konfreria ini memainkan peran penting dalam memastikan bahwa tradisi devosi Bunda Maria diteruskan dari generasi ke generasi. Melalui pengorganisasian prosesi, doa Rosario, dan berbagai kegiatan rohani lainnya, Konfreria ini menjaga agar penghormatan kepada Tuan Ma tetap hidup dan terus berkembang di masyarakat. Peran Konfreria sangat vital dalam memelihara dan mengembangkan devosi ini, sehingga semakin banyak orang yang terlibat dalam prosesi serta kegiatan rohani lainnya.
C. Ristus Semana
Dalam perayaan semana santa ada beberapa ritus yang dilakukan oleh masyarakat larantuka diantaranya :
1) Ritus Mengaji semana
Mengaji Semana merupakan bentuk devosi doa yang dijalankan oleh komunitas Semana selama masa prapaskah sebagai persiapan rohani menjelang perayaan Tri Hari Suci (Triduum Paschal). Tradisi ini awalnya dilakukan setiap hari sepanjang masa puasa, namun dalam praktik kontemporer, pelaksanaannya dibatasi pada hari Jumat dan Sabtu. Struktur doa dalam Mengaji Semana mencakup unsur liturgis dan elemen kesalehan personal, yang berasal dari warisan spiritual para mistikus Gereja Katolik.
Ritus doa ini dilantunkan secara bergantian, di mana anggota Konfreria dan Mama Muji berperan sebagai pemimpin doa, sementara umat dari komunitas Semana mengulangi secara responsorial. Bahasa yang digunakan dalam pelaksanaan doa terdiri atas bentuk-bentuk tutur dalam bahasa Portugis dan Latin, meskipun dengan pelafalan yang telah mengalami perubahan fonetik seiring waktu.
Kegiatan Mengaji Semana secara khusus dilaksanakan di Kapela Maria, dan tanggung jawab penuh atas penyelenggaraannya berada di tangan tiga belas suku utama yang tergabung dalam komunitas Semana. Mereka memegang peranan penting dalam melestarikan warisan spiritual ini sebagai bagian dari identitas budaya dan religius masyarakat Katolik di Larantuka.
2) Ritus Muda tuan dan Cium Tuan
Ritus Muda Tuan merupakan bagian sakral dari rangkaian tradisi Semana Santa di Larantuka, yang berpusat pada tindakan pemurnian simbolik terhadap dua arca suci: Tuan Ma dan Tuan Ana . Proses ini dilaksanakan secara eksklusif oleh anggota terpilih dari Confreria Reinha Rosari. Pembersihan patung dilakukan dengan tata cara khusus oleh tiga belas anggota Confreria yang telah disumpah untuk menjaga kerahasiaan seluruh prosesi, termasuk pengalaman spiritual maupun hal-hal yang mereka saksikan selama pelaksanaan ritus Muda Tuan.
Setelah pembersihan selesai, ritual dilanjutkan dengan pembukaan kapela yang menyimpan kedua arca suci. Tugas ini dijalankan oleh seorang Lejanti (atau Aljanti), istilah yang diturunkan dari kata Portugis “adjudante,” yang berarti pembantu atau asisten. Namun, sebelum pintu kapela dapat dibuka, kuncinya terlebih dahulu harus disentuh oleh Raja Larantuka dari suku Amakoten, yakni keluarga Diaz Viera do Godinho (DVG). Tindakan ini merupakan simbol serah terima kewenangan dari Raja kepada Lejanti, yang menandai dimulainya prosesi pembukaan arca suci kepada khalayak umum.
Pembukaan kapela diikuti dengan pelaksanaan ritus Cium Tuan, yaitu tindakan penghormatan dan permohonan umat kepada arca Tuan Ma dan Tuan Ana yang dilakukan dengan cara mencium bagian kaki patung. Dalam ritus ini, kesempatan pertama diberikan kepada suku Diaz Viera do Godinho (Amakoten), selaku pemegang otoritas historis dan spiritual di Larantuka, yang kini juga menjabat sebagai Presidenti Confreria Reinha Rosari. Setelahnya, anggota keluarganya serta seluruh umat, termasuk para peziarah, diberikan kesempatan yang sama. Di Kapela Tuan Ana, penghormatan serupa dilakukan oleh suku Bulan Terang de Rosari (Amakelen) dengan tata cara yang identik. Ritus Cium Tuan ini berlangsung sepanjang hari hingga menjelang perayaan Ekaristi Kamis Putih di Katedral, dan dilanjutkan kembali setelah misa hingga pagi hari Jumat Agung.
3) Ritus Kesumi Tuan
Kesumi Tuan merupakan salah satu ritus penting dalam rangkaian tradisi Semana Santa di Larantuka, yang memiliki makna spiritual dan simbolik mendalam bagi umat Katolik setempat. Istilah “Kesumi Tuan” merujuk pada prosesi penyimpanan kembali barang-barang kudus serta perlengkapan liturgis lainnya, ke dalam ruang sakral yang terdapat di dalam kedua kapela utama—Kapela Tuan Ma dan Kapela Tuan Ana oleh anggota confreria terpilih.
Dengan berbagai peristiwa iman yang telah dijabarkan, dapat disimpulkan bahwa Devosi Semana Santa di Larantuka bukan sekadar sebuah tradisi turun-temurun, melainkan sebuah warisan spiritual yang terus hidup dan berkembang seiring waktu. Devosi Semana Santa di Larantuka bukan hanya perayaan tahunan, tetapi juga ekspresi iman yang mendalam, menghubungkan umat dengan sejarah keselamatan dan kasih Bunda Maria yang selalu menyertai mereka.
Daftar PustakaBala, Kristoforus.2015. Seri Filsafat Teologi Widya Sasana: St. Maria Ratu Rosario Sebagai Bintang Misi-Evangelisasi di Nusa Tenggara. STFT Widya Sasana : Malang
Donovan,Gordi.2023.Semana Santa Larantuka, Kisah Suku Resiona Dapat Patung Tuan Ma Pembawa Berkat.Tribun Flores.com (https://flores.tribunnews.com/2023/03/30/semana-santa-larantuka-kisah-suku-resiona-dapat-patung-tuan-ma-pembawa-berkat? )
Goodwin, J. R. (2016). The Development of the Stations of the Cross as a Liturgical Devotion in the Catholic Church. Journal of Liturgical Studies, 28(1), 45-67.
Oktora,Samuael dan Kornelis Kewa Ama. 2010. Lima Abad Semana Santa Larantuka. (regional.kompas.com)
Smith, K. (2014). Franciscan Influence on the Spread of the Via Crucis in Medieval Europe. Catholic Historical Review, 100(3), 235-259.
Viktorahadi, R. F. B. 2019. Peran Sentral Bunda Maria dalam Prosesi Arak-Arakan Patung Tuan Ma di Larantuka (Suatu Ungkapan Kearifan Lokal dalam Tradisi Religius). (syekhnurjati.ac.id)
0 Komentar