KONFRERIA
Dok: floresku.com
Istilah “kofreria” , sebenarnya diambil dari kata bahasa Latin yakni “confraternitas”. Kata ini terdiri dari dua suku kata yakni “con” yang berarti “bersama” dan “fraternitas” yang berarti “persaudaraan”. Akan tetapi dalam bahasa Indonesia , kata “konfraternitas” ini sering ditulis dengan “konfreria”, karena disesuaikan dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia[1]. Jadi baik konfratenitas atau konfreria memiliki arti yang sama yaitu perkumpulan persaudaraan atau perkumpulan umat beragama yang dibentuk berdasarkan devosi kepada santo atau santa untuk tujuan tertentu seperti amal dan rohani[2]. Dengan demikian istilah konfreria merupakan kata serapan yang digunakan oleh gereja katolik yang ditujukan pada organisasi serikat gerejawi dimana konfreria/kofraternitas ini memiliki aturan dan tata cara sendiri yang harus diikuti oleh para anggotanya.
Secara umum, konfreria atau konfraternitas dapat didefenisikan sebagai kelompok umat Katolik yang dibentuk atas dasar devosi kepada seorang santo atau santa, atau untuk tujuan-tujuan tertentu, seperti amal atau rohani. Konfreria atau Konfraternitas modern memiliki berbagai macam tujuan dan kegiatan. Ada beberapa konfraternitas fokus pada devosi kepada santo atau santa tertentu, seperti Konfraternitas Santo Antonius Padua atau Konfraternitas Bunda Maria dari Guadalupe. Sedangkan konfraternitas yang lainnya fokus pada tujuan-tujuan tertentu, seperti amal atau rohani[3].
Menurut catatan sejarah, Pada abad ke-4, di Yerusalem, didirikanlah konfreria/konfraternitas yang pertama kali. Tujuan utama pembentukan konfreria/konfraternitas tersebut adalah merawat dan menjaga makam Yesus Kristus. Selanjutnya, konfreria/konfraternitas berkembang pesat di Eropa selama Abad Pertengahan. Peran mereka menjadi sangat penting dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat. Konfreria/konfraternitas ini aktif terlibat dalam berbagai kegiatan amal, termasuk membantu orang miskin dan sakit, serta mendirikan tempat-tempat ibadah. Namun, pada abad ke-19, konfraternitas mengalami penurunan signifikan. Beberapa faktor yang menyebabkannya termasuk peristiwa seperti Revolusi Prancis dan Reformasi Protestan[4].
Penurunan peran konfreria/konfraternitas juga terjadi dalam konteks perubahan sosial yang lebih luas di Eropa. Industrialisasi dan urbanisasi mengubah struktur masyarakat secara drastis. Banyak fungsi sosial yang sebelumnya dijalankan oleh konfreria/konfraternitas, seperti bantuan untuk orang miskin dan perawatan orang sakit, mulai diambil alih oleh lembaga-lembaga pemerintah atau organisasi sekuler. Sekularisasi masyarakat juga memainkan peran penting. Pemisahan yang semakin jelas antara gereja dan negara di banyak negara Eropa mengurangi pengaruh langsung organisasi-organisasi keagamaan, termasuk konfraternitas, dalam kehidupan publik. Meskipun mengalami penurunan, warisan konfreria/konfraternitas tetap terasa dalam berbagai aspek:
- Model organisasi: Banyak organisasi amal modern dan kelompok sukarelawan mengadopsi struktur dan praktik yang mirip dengan konfraternitas kuno.
- Tradisi keagamaan: Beberapa ritual dan tradisi yang dikembangkan oleh konfraternitas masih dipraktikkan dalam berbagai bentuk di komunitas-komunitas religius
- Arsitektur dan seni: Bangunan-bangunan dan karya seni yang disponsori oleh konfraternitas masih berdiri sebagai warisan budaya yang penting.
- Etika sosial: Penekanan konfraternitas pada pelayanan sosial dan amal telah membantu membentuk etika sosial Kristen yang masih berpengaruh hingga saat ini.
- Pendidikan: Beberapa institusi pendidikan yang awalnya didirikan oleh konfraternitas terus beroperasi, meskipun mungkin dalam bentuk yang berbeda.
[1] Adolf Heuken, Ensiklopedi Gereja, 4th edn (Jakarta: ayasan Cipta Loka Ceraka, 2005).
[2] Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa, 2016).
[3] Ignatius Sunardi, Konfraternitas: Sebuah Sejarah Dan Perkembangannya (Yogyakarta: Kanisius, 2016).
[4] Sunardi.
0 Komentar